Jumat, 05 September 2008

TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA

TUBERKULOSIS DAN PERMASALAHANNYA

Diperkirakan sekitar sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 1995, diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3 juta kematian akibat TB diseluruh dunia. Diperkirakan 95 % kasus TB dan 98% kematian akibat TB didunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga kematian wanita akibat TB lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas.

Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3-4 bulan. hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial-stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.

penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah :

  1. Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara-negara yang berkembang.
  2. Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh :
    • tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan
    • tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus/diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaanya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar dan sebagainya).
    • Tidak memadainya tata lakasana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis)
    • Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG
    • Insfrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi dan pergolakan masyarakat.
  3. Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan
  4. Dampak pandemi HIV

munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama kekebalan ganda kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani.

Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ketiga terbanyak di dunia setelah Cina dan India dengan jumlah pasien sekita 10 % dari total jumlah pasien TB didunia. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. insidensi kasus Tb BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk.

Penularan TB

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberkulosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

Cara penularan

  • Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif
  • pada waktu batuk atau bersin pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk perciban dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
  • Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana perciban dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab.
  • Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
  • Factor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara teresebut.

Risiko penularan

  • Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.
  • Risiko penularan setiap tahunnya ditunjukan dengan Annual risk of tuberculosis infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTi sebesar 1% berarti sepuluh orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. ARTI di Indonesi bervariasi anatara 1-3%.
  • Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.

Risiko menjadi sakit TB

  • Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB
  • Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun, sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.
  • Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).
  • HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler, sehingga jika terjadi infeksi oportunistik seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengekibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien Tb akan meningkat, dengan demikian penularan TB di Masyarakat akan meningkat pula.

Upaya Penanggulangan TB

Pada awal tahun 1990 WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal dengan strateegi DOTS (Directly Treatment Short- course) dan telah terbukti sebagai penaggulangan yang secara ekonomis paling efektif.

Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian akan menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB.

Strategi DOTS terdiri dari 5 komponen kunci :

  1. Komitment politis
  2. Pemeriksaan dahak mikroskopis yang terjamin mutunya
  3. Pengobatan jangka pendek yang standar bagi semua kasus TB dengan tatalaksana kasus yang tepat, termasuk pengawasan langsung pengobatan.
  4. Jaminan ketersediaan OAT yang bermutu
  5. Sistem pencatatan dan pelaporan yang mampu memberikan penilaian terhadap hasil pengobatan pasien dan kinerja program secara keseluruhan.

Tidak ada komentar: