Selasa, 14 Juni 2016
Jumat, 17 April 2015
BEASISWA UNGGULAN KEMDIKNAS
1. Beasiswa Unggulan Kemdiknas S1
Beasiswa yang diberikan adalah untuk jenjang pendidikan S1, pilihannya
adalah bisa mengajukan untuk kuliah di luar neger atau dalam negeri
semua ada untuk melakukan pendaftaran secara online beasiswa kemdiknas
maka terlebih dahulu anda harus membuat akun di situs resmi buonline.beasiswaunggulan.kemdiknas.go.id
kemudian ikuti langkah selesai untuk jenjang pendidikan anda harus isi
dengan beberapa ketentuan S1 sedangkan pemilihan kampus ditentukan oleh
Kemdiknas karena hanya kampus yang ada di situs saja yang bisa anda
pilih.
2. Beasiswa Unggulan Kemdiknas S2
Untuk S2 ada beberapa perbedaan beasiswa yang diberikan karena secara
umum terdapat beasiswa seperti beasiswa dalam negeri, beasiswa luar
negeri dan beasiswa penelitian semua bisa diajukan melalui situs
pendaftaran online Beasiswa Kemdiknas di beasiswaunggulan.kemdiknas.go.id
kemdian ikuti semua proses dari mulai pembuatan akun sampai dengan
selesi nantinya semua login akan dikirim melalui email yang sudah anda
daftarkan.
3. Beasiswa Unggulan Kemdiknas S3
Beasiswa ini diperuntukan bagi dosen dan calon dosen serta beasiswa
dalam negeri dan kelas Internasional serta biaya riset dan telent
melalui beberapa beasiswa yang diberikan diharapakan dosen dan calon
dosen dapat terus mengembangkan ilmu yang ada dan melanjutkan kuliah
sesuai dengan yang di inginkan, untuk proses bisa melalui usulan kampus
tempat mengabdi atau melalui online, cara pendaftaran online dapat
dilakkan melui situs resmi di kemdiknas.go.id kemudian pilih portal yang anda inginkan sesuai petunjuk sampai dengan selesai.
Nah sebagai catatan bahwa beasiswa kemdiknas yang diberikan tidak sebesar Beasiswa DIKTI,
nominalnya tidak begitu besar tetapi cukup untuk kuliah dan memenuhi
beberapa kebutuhan yang ada untuk itu anda harus siapkan diri anda mulai
bulan Juni sampai dengan Juli setiap tahunya untuk
keterangan silahkan akses informasi melalui situs resmi kemdikna.go.id
anda bisa memilih beasiswa 100% atau kurang dari itu.
Siapkan diri anda dan mulai mencari informasi awal Januari untuk
pembukaan jangan sampai anda ketinggalan, pendaftaran karena kalau tidak
sekarang anda akan menyesal, sekolah gratis dibiayai Kemdiknas siapa
tidak mau, dan jika lulus nanti ditempatkan oleh Kemdiknas sesuai dengan
jenjang pendidikan yang anda pilih.
Ada ratusan beasiswa yang diberikan pemerintah dan BUMN serta pihak
asing bagi pendidikan anda terpenting adalah kita sebagai mahasiswa
harus rajin mencari informasi yang dibutuhkan semua bisa terlakasana
dengan baik apabila kita tekun untuk mencari, semoga anda lulus seleksi
Beasiswa Unggulan Kemdiknas tahun ini amin.
Fun bike AKA IKM
Senin, 19 Januari 2015
Selamat kepada Prof Suastika sebagai ketua IKAYANA
Kelurga Besar Ikatan Alumni Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana
Mengucapkan selamat atas terpilihnya kembali
Prof. Dr. dr. Ketut Suastika SpPD periode 2015-2019 sebagai ketua Ikatan Alumni Universitas Udayana (IKAYANA)
Semoga IKAYANA menjadi semakin maju
Senin, 21 April 2014
Kegiatan AKA 2014
Come and join Malam Puncak AKA IKM 2014 yg akan diadakan pd 26 April
2014. Di acara ini akan ada bintang tamu yg super seru, dan gak cuma
bintang tamu, Malam Puncak AKA IKM 2014 juga akan dimeriahkan oleh
special performance dari berbagai angkatan IKM dan dosen-dosen PSIKM.
So, don't forget to attend the event!!! It'll be fun and full of
unforgettable memories!!
Selasa, 21 Januari 2014
PERANANA KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA
a. Posisi Kesehatan dan Keselamatan dalam ilmu K3
Posisi kesehatan kerja berada pada lingkup pekerja dan lebih menekankan pada aspek promosi terhadap kesehatan para pekerja sementara posisi keselamatan berada pada aspek interaksi yang ada dalam system kerja atau proses kerja.
b. Peran Kesehatan dan Keselamatan dalam ilmu K3
Peran Kesehatan dan Keselamatan dalam ilmu Kesehatan kerja berkontribusi dalam upaya perlindungan kesehatan para pekerja dengan upaya promosi kesehatan, pemantauan dan survailan kesehatan serta upaya peningkatan daya tubuh dan kebugaran pekerja. Sementara peran keselamatan adalah menciptakan system kerja yang aman atau yang mempunyai potensi resiko yang rendah terhadap terjadinya kecelakaan dan menjaga aset perusahaan dari kemungkinan loss.
c. Tujuan Kesahatan dan Keselamatan berdasarkan ilmu K3
Kesehatan kerja memiliki tujuan sebagai berikut
1. Mencegah terjadinya penyakit akibat kerja
2. Meningkatkan derajat kesehatan pekerja melalui promosi K3
3. Menjaga status kesehatan dan kebugaran pekerja pada kondisi yang optimal
Keselamtan kerja memiliki tujuan sebagai berikut
1. menciptakan system kerja yang aman mulai dari input, proses dan out put
2. Mencega terjadinya kerugian (loss) baik moril ataupun materil akibat terjadinya kecelakaan
3. Melakukan pengendalian terhadap resiko yang ada di tempat kerja
d. Fungsi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Fungsi dari Kesehatan kerja
1. Identifikasi dan Melakukan Penilaian terhadap resiko dari bahaya kesehatan di tempat kerja
2. Memberikan saran terhadap perencanaan dan pengorganisasian dan praktek kerja termasuk desain tempat kerja
3. Memberikan saran, informasi, pelatihan dan edukasi tentang kesehatan kerja dan APD
4. Melaksanakan surveilan terhadap kesehatan kerja
5. Terlibat dalam pross rehabilitasi
6. Mengelolah P3K dan tindakan darurat
Fungsi dari Keselamatan kerja
1. Antisipasi, identifikasi dan evaluasi kondisi dan praktek berbahaya
2. Buat desain pengendalian bahaya, metode, prosedur dan program
3. Terapkan, dokumentasikan dan informasikan rekan lainnya dalam hal pengendalian bahaya dan program pengendalian bahaya
4. Ukur, periksa kembali keefektifitas pengendaliahn bahaya dan program pengendalian bahaya
Sabtu, 24 Agustus 2013
Lomba sanitasi tepat guna
Diare merupakan salah satu masalah kesehatan yang utama di Indonesia. Menurut Survei Demografi Kesehatan terakhir (2007), angka kematian bayi dan balita yaitu 44 per 1000 kelahiran hidup, dimana diare memberikan kontribusi terbesar. Hal ini terjadi baik di perdesaan dan di perkotaan. Untuk menjawah tantangan tersebut Kemeterian Kesehatn meluncurkan Strategi Nasional Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang merupakan keputusan Menteri Kesehatan No. 852 tahun 2008.
Penyediaan sarana sanitasi, masih menghadapi tantangan, dikarenakan:
- Teknologi untuk lokasi khusus seperti daerah sempit perkotaan, daerah pasang surut dsb masih belum banyak tersedia
- Persepsi masyarakat bahwa teknologi yang aman itu mahal dan rumit
- Investasi yang tinggi
- Pengoperasian dan perawatan tidak mudah
Peserta
Lomba ini terbuka untuk umum, baik perorangan maupun kelompok.
Peserta lomba bisa berasal dari :
akademisi (mahasiswa dan dosen), profesional di bidang sanitasi dan higien, NGO dan masyarakat umum.
Hadiah
Uang tunai total sebesar Rp. 110.000.000,00
informasi lengkap di :
Apresiasi Lainnya
http://sanitasitotal.com/wp/?page_id=1746
Selasa, 26 Februari 2013
Harvard-IAKMI Tawarkan Beasiswa Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih
http://health.detik.com/read/2012/07/17/181405/1967700/763/harvard-iakmi-tawarkan-beasiswa-kesehatan-endang-rahayu-sedyaningsih
Jakarta, Salah satu perguruan tinggi terkemuka di dunia, Harvard University, bekerja sama dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) dan Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan program beasiswa bernama Endang Rahayu Sedyaningsih Scholarship Program (ERS-SP).
Program ini diselenggarakan sebagai wujud penghormatan terhadap mantan Menteri Kesehatan RI, Almarhumah Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, dr, MPH, Dr.PH karena integritasnya dalam memajukan kesehatan masyarakat di Indonesia.
Bidang yang ditawarkan dalam ERS-SP ini adalah bidang kesehatan masyarakat yang diprioritaskan pada pengembangan promotif dan preventif Traditional Complementary and Alternative Medicine (TCAM), penyakit tidak menular yang juga dikaitkan dengan Millennium Development Goals (MDGs), pembiayaan kesehatan yang adil, kesehatan global dan pengembangan upaya hidup sehat.
Tak hanya itu, kesempatan beasiswa untuk bidang lain juga masih terbuka di masa depan. Menurut rilis yang diterima detikHealth, Selasa (17/7/2012), ERS-SP bersifat independen, tidak terikat pada universitas atas beasiswa tertentu dan akan dikelola oleh sekretariat yang dibentuk IAKMI. IAKMI akan bertanggung jawab terhadap laporan tahunan yang menjelaskan siapa saja penerima beasiswa dan output yang dihasilkan.
Program beasiswa ini didanai melalui 3 metode, yaitu program langsung dari Harvard University melalui HENRI Program, donasi langsung khusus untuk ERS-Scholarship Program yang dikelola oleh IAKMI dan pendapatan dari sumbangan yang dikelola oleh IAKMI. Sekretariat ERS-Scholarship akan bertanggungjawab dalam pendanaan program dan menyesuaikannya kepada penerima.
Sampai saat ini, telah diseleksi 8 orang penerima beasiswa atau Harvard Fellows untuk mendalami kebijakan kesehatan Indonesia selama 6 minggu di Harvard School of Public Health mulai awal Juli 2012. Kesemua penerima ini wajib menyusun 2 manuskrip tentang kebijakan kesehatan di Indonesia. Penyusunan manuskrip tersebut dilakukan dengan koordinasi dan dibawah bimbingan Kemenkes dan jajaran terkait.
Manuskrip yang sudah disusun akan disajikan pada bulan September 2012 dalam Lokakarya Nasional Kebijakan Kesehatan. Lokakarya tersebut diharapkan akan menghasilkan opsi kebijakan kesehatan di masa mendatang. Acara ini rencananya akan menghadirkan lembaga donor, akademisi, praktisi, peneliti dan para pemangku kepentingan lainnya.
Kedelapan penerima beasiswa atau Harvard Fellows ERS-Scholarship 2012 adalah sebagai berikut:
1. Suparmi, Msc, dari Badan Litbangkes Kemenkes RI
2. Christiana R Titaley, DDS, MPH, PhD dari Universitas Indonesia
3. Dwi Gayatri, DDS, MPH dari Universitas Indonesia
4. Anna Vipta Resti Mauludyani, MSc dari Institut Pertanian Bogor
5. Rizanda Machmud, MD, MPH, DrPH dari Universitas Andalas
6. Defriman Djafri, MPH, PhD.c dari Universitas Andalas
7. Lina Rospita, MSc, dari SEAMEO-RECFON/U
8. Rina Agustina MD, Msc, dari SEAMEO-RECFON/U
Lowongan USAID Vacancy Public Health Monitoring Coordinator
Lowongan Kerja USAID Indonesia
U.S. Agency for International Development (USAID)/Health Office based in Jakarta is recruiting Indonesian
Nationals for the position of PUBLIC HEALTH ASSISTANT (Post Code:
HLTH). Salary starts from Rp.7,647,392 per month depending on
qualifications, experience and salary history.

BASIC FUNCTION OF POSITION:
This position serves as a Public Health Monitoring Coordinator for the Health Office. Under the direct supervision of the USAID Office of Health Director or his/her designee, serves as primary officer responsible for monitoring and reporting across the entire health portfolio, including meeting reporting requirements for the Global Health Initiative (GHI), the Health program’s program monitoring plan (PMP) and FACTS and/or other Agency database reporting system, as well as supporting the HIV/AIDS team for required reporting for the President’s Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR).
This position serves as a key management and administration specialist with an emphasis on monitoring and evaluation activities and will have primary responsibility for the coordination of reporting requirements across the Office of Health and significant responsibility for strategic information components required by the GHI. In addition, this position will be an active member of the maternal/child health technical team, providing program support to that team as well as support for other cross-cutting requirements for the office.

BASIC FUNCTION OF POSITION:
This position serves as a Public Health Monitoring Coordinator for the Health Office. Under the direct supervision of the USAID Office of Health Director or his/her designee, serves as primary officer responsible for monitoring and reporting across the entire health portfolio, including meeting reporting requirements for the Global Health Initiative (GHI), the Health program’s program monitoring plan (PMP) and FACTS and/or other Agency database reporting system, as well as supporting the HIV/AIDS team for required reporting for the President’s Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR).
This position serves as a key management and administration specialist with an emphasis on monitoring and evaluation activities and will have primary responsibility for the coordination of reporting requirements across the Office of Health and significant responsibility for strategic information components required by the GHI. In addition, this position will be an active member of the maternal/child health technical team, providing program support to that team as well as support for other cross-cutting requirements for the office.
QUALIFICATIONS REQUIRED:
At a minimum, applicant must have the following:
1. Completion of university degree in or a combination of accounting, liberal arts, management, health, business, administration or social science or related field is required.
2. Three years of work experience with progressive responsibility in international development or related program management, preferable in health. Familiarization with health specific reporting requirements strongly preferred.
3. Level III (Good working knowledge) in English and Level IV (Fluent) in Bahasa Indonesia.
At a minimum, applicant must have the following:
1. Completion of university degree in or a combination of accounting, liberal arts, management, health, business, administration or social science or related field is required.
2. Three years of work experience with progressive responsibility in international development or related program management, preferable in health. Familiarization with health specific reporting requirements strongly preferred.
3. Level III (Good working knowledge) in English and Level IV (Fluent) in Bahasa Indonesia.
SELECTION CRITERIA:
In addition to the above criteria relating to education, experience, and language proficiency, the following criteria will also be used to evaluate applicants:
1. Must Have computer skills in Microsoft Office Programs and Internet.
2. Must be able to travel outside of Jakarta periodically including as frequently as once a month or every 2 months if required.
3. Must have knowledge of the concepts, principles, techniques and practices of program management skills, including experience managing activities, schedules, and project implementation and monitoring/evaluation.
Only short listed candidates will be notified for test and interview.
In addition to the above criteria relating to education, experience, and language proficiency, the following criteria will also be used to evaluate applicants:
1. Must Have computer skills in Microsoft Office Programs and Internet.
2. Must be able to travel outside of Jakarta periodically including as frequently as once a month or every 2 months if required.
3. Must have knowledge of the concepts, principles, techniques and practices of program management skills, including experience managing activities, schedules, and project implementation and monitoring/evaluation.
Only short listed candidates will be notified for test and interview.
Send letter of application, complete resume in English and
supporting documents (in Microsoft Word document format)
& please put the post code : HLTH on the subject of your
email to: Please Login or Register to apply this job online. or fax to: 021-3860336. USAID Website: http://indonesia.usaid.gov
Info Lowongan Kerja USAID lainnya.
supporting documents (in Microsoft Word document format)
& please put the post code : HLTH on the subject of your
email to: Please Login or Register to apply this job online. or fax to: 021-3860336. USAID Website: http://indonesia.usaid.gov
Info Lowongan Kerja USAID lainnya.
Rabu, 15 Agustus 2012
Program “Satu SKM Satu Desa” untuk Indonesia Sehat
Menanggapi berbagai persoalan klasik tentang masalah kesehatan
masyarakat dunia termasuk indonesia, baik penyakit tidak menular maupun
menular. Hal tersebut menjadikan indonesia yang merupakan negara
berkembang harus berusaha lebih keras dengan menganalisis permasalahan
yang ada kemudian mencoba memperbaiki segera masalah dengan berbagai
cara yang dianggap paling efektif dan efesien. Berbagai organisasi
kesehatan terutama sektor pemerintah mulai gelisah baik karena
kepedulian terhadap kesehatan atau karena sebuah tekanan dari kebijakan
dunia, negara maupun masyarakat. Permasalahan tersebut telah ditemukan
dan ditetapkan dalam sebuah perencanaan pembangunan kesehatan, salah
satu diantaranya adalah permasalahan sumber daya kesehatan (SDM).
Pemerintah dan berbagai organisasi profesi telah menetapkan gebrakan
baru yang dianggap mampu mengatasi permasalahan SDM diantaranya adalah
tenaga kesehatan masyarakat (SKM). Permasalahan kualitas dan kuantitas
SDM merupakan salah satu faktor penting dalam pembangunan kesehatan
selain pembiayaan.
Menjamurnya pendidikan kesehatan masyarakat di Indonesia bisa
dikatakan sangat subur hal ini terbukti dengan telah berdiri dan
beroprasionalnya 143 perguruan tinggi (PT) tingkat sarjana, 24 PT
tingkat Magister dan 2 PT untuk tingkat doktor baik negeri (PTN) maupun
swasta (PTS), yang menurut data sampai maret 2010, 70% tingkat sarjana
dan 80 % tingkat magister belum terakreditasi (EPSBED.Dikti, 2010).
Pendidikan kesehatan termasuk SKM dianggap sebagai peluang bisnis yang
menjanjikan khususnya bagi para pengusaha atau pemilik modal PTS aelain
alasan untuk membantu pendidikan masyarakat atau alasan positif lainya (pernah mendengar sendiri, ada pendiri pernah mengatakan demikian). Sayangnya menjamurnya pendidikan SKM di indonesia belum mengedapankan kualitas sasaran, hal ini terbukti dengan banyaknya perguruan tinggi yang belum bisa memenuhi standar minimal
(SDM, kurikulum, sistem pendidikan, laboratorium, dll) pendirian
program studi/perguruan tinggi secara nyata, hal ini justru menimbulkan
brbagai pertanyaan, bagaimanakah pihak pemerintah dalam hal ini
Kementerian Pendidikan Nasional/Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bisa mengeluarkan surat ijin perpanjangan, pendirian dan pembukaan prodi SKM tersebut. (Dapat di lihat pada daftar rujukan Materi Dr.Emma dan Dr.Setiawan di kahir tulisan ini)
Selain itu permasalahan yang juga tidak kalah penting adalah ketika
para SKM telah selesai pendidikan, akankah mereka mengembangkan dan
mengamalkan ilmunya, siap dan mampu berkreatifitas dan berkarya dengan
jalur yang telah dipilihnya hingga finish atau mereka melupakan latar
belakang mereka hingga merubah haluan dan tujuan semula karena demi
mempertahankan hidup, mengisi perut dan membantu ekonomi kaluarga atau
bahkan beralih menekuni bidang ilmu yang lebih menjanjikan. Sudah
sewajarnya organisasi pendidikan dan profesi (IAKMI, PERSAKMI, AIPTKMI,
dan organisas lain dalam disiplin ilmu kesmas) peduli terhadap
saudara-saudara kita yang selama ini telah tercetak (lulusan/SKM) dan
akan tercetak (mahasiswa).
Jika pemerintah berkomitmen untuk memprioritaskan upaya promotif dan
preventifnya, maka sebagai konsekuensinya tentu pendanaan juga harus
disiapkan, jika kesehatan masyarakat terjamin dan meningkat maka
produktifitas manusia juga akan meningkat yang akhirnya berdampak kepada
peningkatan ekonomi negara dan timbal balik dari negara adalah membantu
mensejahterakan masyarakat termasuk SKM yg memiliki potensi tapi tak
berdaya, disitulah letak hubungan timbal balik mutualisme antara
masyarakat dalam hal ini SKM dengan pemerintah atau bangsa Indonesia.
Secara rinci sebagian permasalan pembangunan kesehatan Indonesia
adalah kekurangan SDM termasuk tenaga kesehatan masyarakat. Kekurangan
yang sangat signifikan tenaga kesmas dan persebaranya di Indonesia
menjadi salah satu penyebab yang mengakibatkan melambanya pembangunan
kesehatan. Jika merujuk bahwa keberhasilan pembangunan kesehatan itu 80 %
ditentukan oleh SDM selain pembiayaan tentu upaya realisasi masalah
tersebut perlu dikedepankan. Saat ini berdasarkan data pusat perencanan
dan pembangunan tenaga kesehatan 2011, ketersediaan tenaga kesmas di
indonesia hanya 6.505 orang padahal berdasarkan kebutuhan kesehatan
masyarakat di puskesmas saja mencapai 26.964 orang sehingga kekuranganya
mencapai 21.131 orang. berdasarkan data permasalahan kekurangan SDM
tersebut tentu hal ini akan sulit terealisasi dan hanya akan menjadi
sebatas program dan rencana diatas kertas tanpa adanya usaha nyata untuk
mencapai kekurangan tersebut, meskipun secara produksi tenaga kesmas di
Indonesia telah berjumlah 143 PT tingkat sarjana yang tersebar di
seluruh wilayah provinsi Indonesia. (Lihat materi Dr.oscar kebijakan nasional dan pemberdayaan SKM)
Isu besar kesehatan lain saat ini ialah masalah adekuasi (memadai)
dan sustainabilitas (keberlanjutan) dari pembiayaan kesehatan di
Indonesia, khususnya pembiayaan pemerintah. Diskusi tentang “apakah anggaran saat ini cukup? Atau kurang?,
menjadi perdebatan yang hangat. Jika melihat kebutuhan akan dana
program dari pemerintah yang digulirkan melalui APBN (Pusat) dan atau
APBD (Propinsi dan Kabupaten Kota), maka bisa dikatakan bahwa anggaran
kesehatan Indonesia relative sangat kecil (hanya 1.7% dari total belanja
pemerintah). Tetapi isu menarik berikutnya adalah adanya sisa anggaran
yang tidak terserap di kementrian kesehatan. Data pasti belum terkumpul,
namun kejadian sudah terlihat bertahun-tahun seperti berikut ini. (lihat
materi Review kebijakan penganggaran dan hasil diskusi anggaran
Kemenkes RI di UGM, Apakah Kurang_Kenapa Ada Sisa_2011, diakhir tulisan
ini)
Hasil diskusi kebijakan pembiayaan kesehatan tahun 2011 di UGM selengkapnya dapat dilihat dan di unduh disini.
Merespon hasil diskusi ilmiah dan beberapa pertemuan ilmiah terkait
tenaga kesehatan (SKM), penganggaran kesehatan dan permasalahan
kesehatan selain yang telah dipaparkan sebelumnya, kita sendiri
menyadari bahwa permasalahan yang sedang kita hadapi saat ini cukup
komplek, paling tidak bagaimana kita berusaha menyelesaikan satu
permasalahan pembangunan kesehatan Indonesia (SDM) untuk bisa
menyelesaikan permasalahan yang lain dengan tetap mengacu pada
pokok-pokok MDGs.
Jika rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN I-IV)
Indonesia tidak akan mengalami perubahan seperti dalam konsep berikut
iniMaka sebuah usulan program “Satu SKM Satu Desa” untuk Indonesia sehat, menjadi sebuah alternatif solusi yang tepat. Jika di analisis secara umum tentang latar belakang mengapa muncul usulan tersebut ?, maka secara ringkas dapat saya gambarkan sebagai berikut.
Dengan adanya perencanaan program “Satu SKM Satu Desa” untuk Indonesia sehat, di harapkan program ini menjadi lebih terarah dan jelas untuk menjadi sebuah alternatif solusi atas permasalahan pembangunan kesehatan dan permasalahan SKM seperti berikut.
- Membantu mempercepat dan memperjelas realisasi pembangunan kesehatan sesuai RPJMN 1-4.
- Meningkatkan Mutu SDM, selain peningkatan mutu pendidikan, dengan semakin bertambahnya SKM yang diberdayakan untuk masyarakat dan bangsa maka diharapkan kualitas SKM akan ikut meningkat hal ini berdasarkan filsafat, ilmu akan bertambah dan meningkat jika ilmu itu digunakan/diamalkan dan mencoba fokus pada permasalahan yang dihadapi.
- Masalah MDGs yang saat ini masih belum tercapai terutama MDG 4, 5 dan 6 akan bisa tercapai lebih baik.
- Mencapai penyebaran tenaga Nakes (SKM) yang adil dan merata diseluruh penjuru nusantara sekaligus membantu membangunkan dan mempercepat program kelurahan/desa siaga aktif yang hampir terabaikan.
- Kesehatan masyarakat akan meningkat sehingga produktifitas masyarakat meningkat dan akhirnya berdampak positif kepada perekonomian masyarakat dan negara, sehingga masyarakat akan lebih sejahtera (indikator keberhasilan pembangunan kesehatan WHO, 80 % ditentukan SDM baik kuantitas maupun kualitas).
NB : Karena program ini direncanakan akan diusulkan menjadi program nasional akan lebih baik jika pemerhati dan penggiat kesehatan masyarakat (IAKMI, PERSAKMI, AIPTKMI, ISMKMI, PAMI) dan organisasi profesi lainya dalam disiplin ilmu kesehatan masyarakat) untuk bisa membagikan dan mendiskusikan program Satu SKM Satu Desa” untuk MDGs (Terobosan baru program Indonesia sehat) demi kesempurnaan konsep tersebut. Terimakasih.
Sabtu, 11 Agustus 2012
SKM sebagai kepala puskesmas : sebuah wacana kompetensi
oleh : Nuzulul Kusuma Putri
Salah
satu point penting dalam SK Menkes no. 128 tahun 2004 tentang Kebijakan
Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat adalah kepala puskesmas dipersyaratkan
harus seorang sarjana di bidang kesehatan yang kurikulum pendidikannya
mencakup kesehatan masyarakat dan menempati eselon III B.
Organisasi dan Tatalaksana Puskesmas
Puskesmas
adalah unit pelaksanaan teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota yang
bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu
wilayah. Visi yang dimiliki oleh Puskesmas adalah tercapainya kecamatan
sehat menuju terwujudnya Indonesia Sehat 2010. Masyarakat hidup dalam
lingkungan dan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata sehingga mampu
untuk memiliki derajat kesehatan yang setinggi- tingginya.
Indikator
pencapaian yang digunakan untuk mengukur visi ini antara lain
lingkungan sehat, perilaku sehat, cakupan pelayanan kesehatan yang
bermutu, serta derajad kesehatan penduduk kecamatan yang optimal.
Konsekuensinya, upaya pelayanan kesehatan di Puskesmas tidak hanya
dalam hal pengobatan (kuratif) tetapi juga meliputi upaya promotif,
preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Dengan
menilik fungsi puskesmas tersebut, terlihat bahwa peran Puskesmas di
luar gedung lebih besar dibandingkan di dalam gedung. Puskesmas perlu
lebih banyak melakukan pemantauan pembangunan berwawasan kesehatan. Hal
ini dibutuhkan agar masyarakat memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan
melayani diri sendiri untuk sehat serta berperan aktif dalam
pelaksanaan program kesehatan. Kegiatan Puskesmas yang ada di dalam
gedung hanya terfokus pada upaya pengobatan. Upaya pengobatan dalam
jangka panjang kurang menguntungkan karena biaya untuk pengobatan
semakin lama semakin meningkat. Adanya fungsi puskesmas yang lebih
terfokus pada kegiatan di luar gedung dari pada di dalam gedung ini,
menyebabkan perlu adanya sistem manajemen yang baik terutama dalam
bidang manajemen kesehatan masyarakat.
Kompleksnya
upaya pelayanan kesehatan yang ada di Puskesmas menuntut adanya sebuah
sistem manajemen Puskesmas yang baik meliputi perencanaan, penggerakan,
pelaksanaan dan pengawasan, pengendalian dan penilaian. Namun perlu
diingat bahwa manajemen merupakan sebuah ilmu dan seni sehingga seorang
kepala Puskesmas dituntut untuk memiliki ilmu manajerial dan kemampuan
mengoptimalkan ilmu itu yang dalam hal ini berada dalam konteks
kesehatan.
Kompetensi Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)
Berdasarkan
penjelasan di atas, tenaga Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) baik
strata satu maupun strata dua adalah salah satu tenaga di bidang
kesehatan yang memiliki ilmu manajemen yang berkaitan dengan kesehatan
masyarakat. Ditinjau dari kurikulum pendidikan Fakultas Kesehatan
Masyarakat, maka kompetensi sarjana kesehatan masyarakat khususnya
jurusan administrasi kebijakan kesehatan, dalam kaitannya dengan
manajemen puskesmas sudah memadai.
Seorang
calon sarjana kesehatan masyarakat harus mampu menyelesaikan mata
kuliah organisasi, manajemen, perencanaan dan evaluasi , pemecahan
masalah dan pengambilan keputusan, manajemen strategik kesehatan
masyarakat, manajemen data, ekonomi kesehatan, kepemimpinan,promosi dan
pendidikan kesehatan, sosio antropologi kesehatan, komunikasi kesehatan,
etika dan hukum kesehatan serta sistem informasi kesehatan.
Saat
ini Puskesmas lebih banyak dipimpin bukan oleh sarjana kesehatan
masyarakat, Puskesmas lebih banyak dipimpin oleh tenaga medis dokter
maupun dokter gigi. Kompetensi dokter dan dokter gigi sebagai kepala
Puskesmas merupakan sebuah over qualified competence. Karena
untuk menjadi seorang administrator tidak perlu belajar anatomi,
biokimia dan ilmu bedah. Keterampilan dokter jauh lebih bermanfaat untuk
clinical care. Meskipun sebagian besar pendidikan dokter
memasukkan mata kuliah manajemen program kesehatan masyarakat (lebih
kurang untuk kegiatan pelayanan di Puskesmas).
Sebuah
penelitian telah dilakukan di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah tentang
perbedaan fungsi manajemen antara Puskesmas yang dikepalai oleh SKM dan
non SKM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan fungsi
perencanaan, fungsi koordinasi, fungsi penggerakan, fungsi evaluasi,
serta angka cakupan program kesehatan pada Puskesmas yang dikepalai oleh
SKM dan Non SKM di Kabupaten Grobogan tahun 2007. Kabupaten Grobogan
memiliki tiga puluh Puskesmas, lima Puskesmas di antaranya dikepalai
oleh SKM, empat Puskesmas dikepalai oleh dokter gigi, dan 21 Puskesmas
dikepalai oleh dokter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada
perbedaan fungsi manajemen antara Puskesmas yang dikepalai oleh SKM dan
Non SKM pada program kesehatan di Kabupaten Grobogan tahun 2007.
Dari
perbandingan kurikulum pendidikan antara SKM dan dokter, terlihat
seorang sarjana kesehatan masyarakat lebih memiliki keahlian yang
diharapkan untuk dapat menjalankan tugasnya sebagai seorang pemimpin
Puskesmas. Hal ini karena seorang pemimpin Puskesmas harus mampu
merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan dan mengevaluasi kegiatan
manajemen Puskesmas. Namun, keberhasilan kepemimpinan Puskesmas oleh
seorang sarjana kesehatan masyarakat berpulang kembali kepada kecerdasan
orang tersebut untuk mengaplikasikan ilmunya di Puskesmas. Dengan dasar
tersebut, seorang pemimpin puskesmas dibutuhkan dari seorang yang telah
menduduki eselon III B dengan harapan orang tersebut telah banyak
pengalaman dalam pekerjaannya.
Faktor
pengalaman lapangan yang selama ini banyak diperdebatkan memang lebih
menguntungkan dokter dan dokter gigi. Kementerian Kesehatan mewajibkan
dokter yang baru lulus melaksanakan praktik selama satu tahun di
Puskesmas dan rumah sakit. Dengan pengaturan penempatan, nantinya dokter
itu akan ditempatkan di Puskesmas selama empat bulan dan di rumah sakit
selama delapan bulan. Persyaratan yang diatur dalam peraturan Menteri
Kesehatan ini menjadi salah satu syarat memperoleh surat tanda
registrasi (STR) yang harus dimiliki dokter agar bisa berpraktik.
Keuntungan dari program ini bagi dokter adalah menambah pengalaman,
meningkatkan ketrampilan dokter, sebagai sarana untuk berkomunikasi
dengan masyarakat.
Pendidikan
sarjana kesehatan masyarakat sendiri telah memberikan bekal pengalaman
bagi sarjananya melalui program magang dan belajar lapangan di instansi
kesehatan di Puskesmas. Namun durasi waktunya lebih pendek daripada
program magang dokter dan dokter gigi (hanya sekitar dua bulan). Job description mahasiswa
magang pun masih belum jelas. Jika dokter dan dokter gigi telah
memiliki program yang jelas dengan program kedokteran komunitas,
mahasiswa kesehatan masyarakat yang magang tugasnya masih belum jelas.
Banyak di antara mahasiswa magang hanya diminta untuk terlibat dalam
pelayanan loket. Sehingga kesempatan dalam ikut serta dan belajar
langsung tentang manajemen Puskesmas masih belum optimal.
Masih Wacana Efisiensi Dokter Bukan Wacana Kompetensi SKM
Kepala
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Kesehatan
mengungkapkan bahwa saat ini dari 8.000-an Puskesmas di Indonesia,
sekitar 30% belum memiliki dokter. Kenyataan bahwa disfungsi dokter
menjadi kepala Puskesmas dapat mengganggu fungsi puskesmas yang
sesungguhnya. Perawat menjalankan praktek pengobatan di Puskesmas dan
dokter jadi pengawas dan administrator. Jika dokter mampu untuk menjadi
pengawas yang efektif mungkin tidak masalah. Tetapi sedikit sekali fakta
yang menunjukkan ada suatu mekanisme dalam pengawasan praktek klinik
perawat. Ini tidak menyampingkan bahwa perawat pun sebetulnya ada yang
berpraktek secara rasional. Hal ini menunjukkan adanya tumpang tindih job description yang ada di Puskesmas.
Ketua
IDI wilayah DKI Jakarta, menyatakan bahwa harus ada kejelasan pada
tugas profesi dokter di Puskesmas. Tugas dokter di Puskesmas saat ini
tidak cocok dengan apa yang seharusnya dilakukan seorang dokter. Karena, dokter jadi lebih disibukkan oleh tugas manajerial dan jabatannya sebagai pejabat
kecamatan. Ketidakjelasan tugas tersebut jelas akan mempengaruhi kinerja dokter Puskesmas. Beberapa studi tentang hal ini telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan hal yang sama. Tingkat kehadiran dokter yang rendah hingga program Puskesmas yang tidak berjalan. Namun tidak semua dapat dipukul rata karena di lain pihak banyak juga kinerja dokter Puskesmas yang tinggi walaupun harus merangkap jabatan struktural sebagai kepala Puskesmas.
kecamatan. Ketidakjelasan tugas tersebut jelas akan mempengaruhi kinerja dokter Puskesmas. Beberapa studi tentang hal ini telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan hal yang sama. Tingkat kehadiran dokter yang rendah hingga program Puskesmas yang tidak berjalan. Namun tidak semua dapat dipukul rata karena di lain pihak banyak juga kinerja dokter Puskesmas yang tinggi walaupun harus merangkap jabatan struktural sebagai kepala Puskesmas.
Wacana
lain yang sering muncul dalam diskusi kepemimpinan Puskesmas adalah
jika Puskesmas dijabat seorang sarjana kesehatan masyarakat akan lebih
menguntungkan karena frekuensi kepindahan tidak terlalu cepat bila
dibandingkan dokter yang frekuensi kepindahannya lebih cepat mengikuti
perannya sebagai dokter yang perlu mengambil pendidikan dokter
spesialis. Wacana SKM menjadi kepala Puskesmas juga muncul karena dokter
dianggap terlalu over-qualified dalam menjalankan
Puskesmas. Untuk menjadi administrator tidak perlu belajar anatomi,
biokimia dan ilmu bedah. Keterampilan dokter dianggap akan jauh lebih
bermanfaat untuk clinical care.
Dari
penjelasan tersebut, terkesan masih mengganggap SKM sebagai warga kelas
dua setelah dokter dalam menjadi kepala Puskesmas. Alasan yang utama
masih mengakar pada dokter. Tentang dokter yang masih dibutuhkan oleh
pasien, tentang dokter yang jumlahnya terbatas, atau bahkan karena
dokter yang memiliki mobilitas tinggi. Alasan munculnya wacana SKM
menjadi kepala Puskesmas masih belum menyentuh core utama efektivitas kompetensi SKM. Belum pada market trust terhadap kemampuan SKM menjalankan manajerial kesehatan.
SKM
masih dianggap terlalu generalis karena studi administrasi kesehatan
hanya satu bagian kecil dari pelajaran mereka. Kemapuan manajemen SKM
juga selalu ditantang oleh kenyataan rumitnya masalah pelayanan
kesehatan yang pada dasarnya dikuasai oleh dokter dan perawat. Meskipun
secara teoritis, administrator bisa saja membawahi orang yang lebih
tinggi tingkat pendidikannya, tetapi bisa ada semacam hambatan
psikologis untuk mengendalikan mereka.
Solusi yang Ditawarkan
Harus ada kejelasan tentang prospek jenjang karir sarjana kesehatan masyarakat. Stakeholder yang terkait harus menyadari ke arah mana SKM akan dikembangkan. Bila memang SKM diniati untuk bisa mengisi jabatan top management
Puskesmas atau rumah sakit, maka mahasiswa kesehatan masyarakat dengan
kualifikasi dan kompetensi macam apa yang berhak menduduki jabatan
tersebut. Untuk lebih memantapkan kompetensinya, SKM harus dibekali
secara detail baik teori maupun praktek tentang total quality management of primary care sebagai ciri khas spesifik SKM dengan dokter. Atau
jika diperlukan adalah dengan membuat sebuah jenjang keprofesian SKM
agar tidak dianggap sebagai bidang ilmu yang generalis.
Untuk
menghindari penganakemasan salah satu profesi dalam menduduki jabatan
kepala Puskesmas, akan lebih adil jika rekrutmen kepala Puskesmas
dilakukan melalui open recruitment. Pemerintah Daerah sebagai
pemilik Puskesmas berwenang menetapkan kualifikasi secara terbuka ketika
mereka mencari posisi kepala Puskesmas. Siapa saja yang memenuhi syarat
dapat mengajukan lamaran. Yang paling penting adalah transparansi dalam
hal rekruitmen dan terminasi. Melalui sebuah rangkaian rekruitmen
hingga seleksi, Pemerintah akan dapat meramalkan kemampuan yang dimiliki
seorang SKM dalam memimpin Puskesmas.
Yang
paling utama adalah berikan kesempatan kepada SKM, apakah mereka mampu
menjadi kepala Puskesmas.
Masalah utama yang muncul adalah tentang
kepercayaan para pembuat kebijakan untuk memberi SKM kesempatan menjadi
kepala Puskesmas. Sudah banyak kabupaten/ kota di Jawa Timur yang telah
memberlakukan kebijakan SKM sebagai kepala Puskesmas. Namun sayangnya
tidak dibarengi dengan evaluasi yang menyeluruh. Pemerintahnya hanya
melihat bahwa output yang dihasilkan kepala Puskesmas SKM tidak lebih
baik daripada non SKM. Pelayanan kesehatan merupakan sebuah proses yang
kompleks sehingga tidak dapat hanya dilihat dari indikator output saja.
Justru yang paling penting adalah indikator proses. Masalah juga sering
muncul pada indikator input SKM, karena SKM yang ada saat ini ada yang
bukan SKM murni. Artinya mereka memiliki dasar pendidikan D3 non
kesehatan masyarakat.
Selasa, 07 Agustus 2012
Lowongan Kerja yang ada dalam Formasi CPNS BNN Tahun 2012 :
Lowongan Kerja yang ada dalam Formasi CPNS BNN Tahun 2012 :
1. Diploma Tiga (D-3) :
- Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (Kode : 060)
- Dokter Umum (Kode : 061)
- Dokter Gigi (Kode : 061)
- Analis Intelijen Taktis (Kode : 115)
- Analis Intelijen Produk Narkotika (Kode :116)
- Psikolog (Kode : 117)
- Pelaksana Bimbingan Teknis di Bidang P4GN (Kode : 118)
- Fasilitator Rehabilitasi Pecandu Narkotika (Kode : 119)
- Analis Laboratorium Narkotika (Kode : 120)
- Pembina Mental Pecandu Narkotika (Kode : 121)
1. Diploma Tiga (D-3) :
- Kebidanan
- Keperawatan
- Kesehatan Masyarakat
- Administrasi Negara
- Agama Islam
- Agama Kristen
- Apoteker
- Dokter Umum
- Dokter Gigi
- Ekonomi Manajemen
- Farmasi
- Hubungan Internasional
- Ilmu Gizi
- Ilmu Hukum
- Ilmu Komunikasi
- Kesehatan Masyarakat
- Ekonomi Akuntansi
- Manajemen Rumah Sakit
- Pendidikan Kurikulum
- Psikologi
- Sastra Inggris
- Teknik Informatika
- Teknik Kimia
- Dokter Spesialis Jiwa
- Profesi Psikologi
Senin, 11 Juni 2012
Pemberlakuan SJSN dan Peranan SKM
Medan, (Analisa). Pemberlakuan Sistem
Jaminan Sosial Nasional (SJSN) akan membuat bangsa ini menjadi mandiri.
Soalnya, akan berdampak pada peningkatan sistem perekonomian negara
dengan tingginya kesempatan kerja dan pertumbuhan pendapatan negara.
Setidaknya, ada beberapa
manfaat bagi masyarakat seperti bunga bank menjadi rendah, stabilitas
nilai rupiah, investasi meningkat, lapangan kerja bertambah, perbaikan
upah dan daya beli naik, investasi sarana kesehatan kian baik, pajak
naik, inflasi terkendali, pasar modal naik, yang semuanya berakumulasi
pada peningkatan kesejahteraan rakyat.Demikian dikatakan Destanul Aulia SKM MBA MEC dalam paparannya di Seminar Keprofesian "Peran Kesehatan Masyarakat dalam SJSN" yang diselenggarakan HMI Komisariat Fakultas Kesehatan Masyarakat USU di Gedung Pengadilan Semu, Jumat (13/1) pagi.
Menurut Destanul, SJSN yang nantinya dikelola BPJS (Badan Pengelola Jaminan Sosial) menjamin lima hak dasar rakyat Indonesia. Mulai dari Jaminan Kesehatan, Jaminan Kecelakaan Kerja, Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun dan Jaminan Kematian.
Program nasional tersebut, lanjutnya, tentu membutuhkan sumber daya manusia (SDM) yang profesional. Salah satu item, jaminan kesehatan misalnya, praktiknya SJSN tidak saja melakukan tindakan kuratif bagi yang sakit, tapi bagaimana agar rakyat tidak sakit.
Ambil Peran
Di sini, lanjutnya, Fakultas Kesehatan Masyarakat bisa mengambil peran sesuai dengan fungsinya seperti, mengajak masyarakat untuk meningkatkan kualitas kesehatan agar tidak menjadi sakit. Termasuk juga soal sanitasi, pemberantasan penyakit, melakukan epidemilogi penyakit, dan lain sebagainya.
"Artinya, lapangan kerja bagi lulusan FKM sangat banyak mulai dari sektor pemerintahan, swasta, rumah sakit, asuransi, perusahaan, LSM dan lembaga pendidikan dan penelitian. Kalaupun saat ini masih berpikir abu-abu, tapi, kondisi ini sangat menguntungkan, karena bisa masuk ke lintas sektor termasuk ketika SJSN ini diberlakukan secara total," jelas Destanul.
Hal serupa juga dikatakan Wakil Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Medan dr Ramlan Sitompul SpTHT (KL).
"SJSN ini bakal dilaksanakan secara bertahap. Tahap satu, pada 2014 nanti sudah diberlakukan jaminan kesehatan untuk seluruh warga Indonesia. Sedangkan tahap dua, ada pertengahan 2016, akan dilanjutkan dengan jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pension dan jaminan kematian," ucapnya.
Jadi nanti, tambahnya, warga yang berada di wilayah mana pun di Indonesia, akan bisa berobat gratis dengan standar pelayanan kesehatan yang dijamin negara. "Bahkan, kalau nanti ada anak yang orangtuanya meninggal, maka keluarga akan mendapatkan jaminan kematian. Ini program yang sangat baik bagi masyarakat," ungkapnya.(nai)
Sabtu, 07 April 2012
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga
Promosi Kesehatan Dalam Pencapaian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga
PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.
PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI ekslusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga
PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.
PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang melakukan 10 PHBS yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI ekslusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah
Jabatan Fungsional PKM
Angka Kredit dan Rincian Jafung PKM
Angka Kredit :
Adalah angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang jafung PKM dalam mengerjakan butir kegiatan;
Adalah juga angka yang digunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan jabatan / pangkat.
Rincian Kegiatan Jafung & Angka Kreditnya
PENDIDIKAN : A. Pendidikan Bergelar (2 kegiatan); B. Diklat dengan STTPL (5 jenis kegiatan).
KEGIATAN PKM : A. Mempersiapkan Kegiatan (11 kegiatan); B. Melaksanakan Advokasi Kes. (3 keg); C. Melaksanakan Peng-galangan Dukungan Sosial (4 Keg); D. Melaksanakan Penyuluhan Untuk Pemberdayaan Masyarakat (5 Keg).
PENGEMBANGAN PKM : A. Pengembangan Pedoman (3 keg); b. Merumuskan sistem Pengembangan Penyuluhan (2 keg); C. Mengembangkan Metode Penyuluhan (2 Keg).
PENGEMBANGAN PROFESI : A. Membuat karya tulis (5 Keg); B. Menerjemah / menyadur buku (3 Keg); C. Membuat buku pedoman; D. Mengembakan Teknologi Tepat guna.
PENUNJANG KEGIATAN PKM : A. Mengajar / melatih; B. Mengikuti seminar / lokakarya; C. Menjadi anggota Tim; D. Memperoleh tanda penghargaan; E. Menjadi anggota Profesi; F. Memperoleh gelar kesarjanaan lain; G. Menjadi anggota Tim penilai karya tentang Advokasi, Bina usaha, Gerakan masyarakat.
Pejabat yang Berwenang dan Tim Penilai dalam Jafung PKM
Pejabat yang berwenang dalam JAFUNG PKM :
SEKJEN KEMENKES : Bagi Jafung PKM Madya di dalam dan di luar lingkungan Kemenkes.
PIMPINAN INSTANSI : Bagi PKM Pelaksana s/d Penyelia, dan PKM Pertama s/d PKM muda di instansinya.
KAPUS PROMKES : Bagi PKM Pelaksana s/d Penyelia, dan PKM Pertama s/d PKM muda di Kemenkes.
KADINKES PROVINSI : Bagi PKM Pelaksana s/d Penyelia, dan PKM Pertama s/d PKM muda di Provinsinya.
KADINKES KAB/KOTA : Bagi PKM Pelaksana s/d Penyelia, dan PKM Pertama s/d PKM muda di Kabupaten/kota ybs.
Tim Penilai adalah :
TIM YANG DIBENTUK DAN DITETAPKAN OLEH PEJABAT YANG BERWENANG DALAM RANGKA MEMBANTU PENETAPAN ANGKA KREDIT PKM.
Angka Kredit :
Adalah angka yang diberikan berdasarkan penilaian atas prestasi yang telah dicapai oleh seorang jafung PKM dalam mengerjakan butir kegiatan;
Adalah juga angka yang digunakan sebagai salah satu syarat untuk pengangkatan dan kenaikan jabatan / pangkat.
Rincian Kegiatan Jafung & Angka Kreditnya
PENDIDIKAN : A. Pendidikan Bergelar (2 kegiatan); B. Diklat dengan STTPL (5 jenis kegiatan).
KEGIATAN PKM : A. Mempersiapkan Kegiatan (11 kegiatan); B. Melaksanakan Advokasi Kes. (3 keg); C. Melaksanakan Peng-galangan Dukungan Sosial (4 Keg); D. Melaksanakan Penyuluhan Untuk Pemberdayaan Masyarakat (5 Keg).
PENGEMBANGAN PKM : A. Pengembangan Pedoman (3 keg); b. Merumuskan sistem Pengembangan Penyuluhan (2 keg); C. Mengembangkan Metode Penyuluhan (2 Keg).
PENGEMBANGAN PROFESI : A. Membuat karya tulis (5 Keg); B. Menerjemah / menyadur buku (3 Keg); C. Membuat buku pedoman; D. Mengembakan Teknologi Tepat guna.
PENUNJANG KEGIATAN PKM : A. Mengajar / melatih; B. Mengikuti seminar / lokakarya; C. Menjadi anggota Tim; D. Memperoleh tanda penghargaan; E. Menjadi anggota Profesi; F. Memperoleh gelar kesarjanaan lain; G. Menjadi anggota Tim penilai karya tentang Advokasi, Bina usaha, Gerakan masyarakat.
Pejabat yang Berwenang dan Tim Penilai dalam Jafung PKM
Pejabat yang berwenang dalam JAFUNG PKM :
SEKJEN KEMENKES : Bagi Jafung PKM Madya di dalam dan di luar lingkungan Kemenkes.
PIMPINAN INSTANSI : Bagi PKM Pelaksana s/d Penyelia, dan PKM Pertama s/d PKM muda di instansinya.
KAPUS PROMKES : Bagi PKM Pelaksana s/d Penyelia, dan PKM Pertama s/d PKM muda di Kemenkes.
KADINKES PROVINSI : Bagi PKM Pelaksana s/d Penyelia, dan PKM Pertama s/d PKM muda di Provinsinya.
KADINKES KAB/KOTA : Bagi PKM Pelaksana s/d Penyelia, dan PKM Pertama s/d PKM muda di Kabupaten/kota ybs.
Tim Penilai adalah :
TIM YANG DIBENTUK DAN DITETAPKAN OLEH PEJABAT YANG BERWENANG DALAM RANGKA MEMBANTU PENETAPAN ANGKA KREDIT PKM.
Peruntukkan Cukai dan Pajak Rokok
Peruntukkan Cukai dan Pajak Rokok akan lebih Adil bagi masyarakat, bila Sebagian Besar Cukai dan Pajak Rokok digunakan untuk mendanai UPAYA YANG DITIMBULKAN AKIBAT DAMPAK NEGATIF DARI ROKOK ?
Penulis: Bambang Setiaji
Peruntukkan Cukai dan Pajak Rokok akan lebih Adil bagi masyarakat, bila Sebagian Besar Cukai dan Pajak Rokok digunakan untuk mendanai UPAYA YANG DITIMBULKAN AKIBAT DAMPAK NEGATIF DARI ROKOK
Secara ilmiah sudah tidak diragukan lagi akan dampak negatif bahaya merokok bagi kesehatan manusia. Dari aspek agamapun tidak dianjurkan umat manusia untuk mengkonsumsi zat yang dianggap dapat merusak dirinya. Hal inilah yang menyebabkan beberapa pandangan rokok itu haram bila dikonsumsi karena dianggap dapat merusak jaringan tubuh, menghambur-hamburkan uang yang seharusnya dapat digunakan untuk keperluan yang lebih bermanfaat seperti untuk meningkatkan gizi keluarga, pendidikan anak, amal dan shodakoh, serta kebutuhan lainnya untuk keperluan rumah tangga.
Rokok merupakan salah satu produk yang diambil cukainya oleh pemerintah, karena rokok dianggap sebagai komoditi yang sebenarnya tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat, bahkan bila perlu komoditi tersebut dihilangkan (demerit good atau bad good).
Mengingat rokok itu banyak mudharotnya dibandingkan manfaatnya khususnya terkait social cost yang hilang akibat konsumsi rokok yang dalam hal ini dampak negatif terhadap kesehatan, maka sebaiknya pemerintah dapat mengkoreksi kesenjangan tersebut dengan cara mendanai kegiatan dari cukai atau pajak rokok untuk membiayai penanggulangan masalah kesehatan akibat konsumsi merokok. Berdasarkan hal itu, maka peruntukkan cukai atau pajak rokok sebaiknya dapat lebih diarahkan untuk membiayai jaminan sosial nasional khususnya jaminan kesehatan masyarakat dan upaya promosi kesehatan.
Bila hal ini terjadi, maka citra pemerintah akan semakin meningkat dimata masyarakat karena pemerintah telah melakukan hal yang seharusnya dilakukan sebagai wujud koreksi terhadap kesenjangan akibat social cost konsumsi rokok. Mari kita doakan dan wujudkan bersama. Amin
Penulis: Bambang Setiaji
Peruntukkan Cukai dan Pajak Rokok akan lebih Adil bagi masyarakat, bila Sebagian Besar Cukai dan Pajak Rokok digunakan untuk mendanai UPAYA YANG DITIMBULKAN AKIBAT DAMPAK NEGATIF DARI ROKOK
Secara ilmiah sudah tidak diragukan lagi akan dampak negatif bahaya merokok bagi kesehatan manusia. Dari aspek agamapun tidak dianjurkan umat manusia untuk mengkonsumsi zat yang dianggap dapat merusak dirinya. Hal inilah yang menyebabkan beberapa pandangan rokok itu haram bila dikonsumsi karena dianggap dapat merusak jaringan tubuh, menghambur-hamburkan uang yang seharusnya dapat digunakan untuk keperluan yang lebih bermanfaat seperti untuk meningkatkan gizi keluarga, pendidikan anak, amal dan shodakoh, serta kebutuhan lainnya untuk keperluan rumah tangga.
Rokok merupakan salah satu produk yang diambil cukainya oleh pemerintah, karena rokok dianggap sebagai komoditi yang sebenarnya tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh masyarakat, bahkan bila perlu komoditi tersebut dihilangkan (demerit good atau bad good).
Mengingat rokok itu banyak mudharotnya dibandingkan manfaatnya khususnya terkait social cost yang hilang akibat konsumsi rokok yang dalam hal ini dampak negatif terhadap kesehatan, maka sebaiknya pemerintah dapat mengkoreksi kesenjangan tersebut dengan cara mendanai kegiatan dari cukai atau pajak rokok untuk membiayai penanggulangan masalah kesehatan akibat konsumsi merokok. Berdasarkan hal itu, maka peruntukkan cukai atau pajak rokok sebaiknya dapat lebih diarahkan untuk membiayai jaminan sosial nasional khususnya jaminan kesehatan masyarakat dan upaya promosi kesehatan.
Bila hal ini terjadi, maka citra pemerintah akan semakin meningkat dimata masyarakat karena pemerintah telah melakukan hal yang seharusnya dilakukan sebagai wujud koreksi terhadap kesenjangan akibat social cost konsumsi rokok. Mari kita doakan dan wujudkan bersama. Amin
Minggu, 11 Maret 2012
Where do public health professionals work?
Public health professionals work in both the public and private sectors. Many public health graduates will find work in the public sector in local, state, or federal health departments. The jobs available at health departments range from Food Safety Inspectors to Health Educators; from Policy Analysts to Epidemiologists. Other public health professionals will find work in university systems as researchers.
Those interested in working for a non-profit organization can find jobs in health advocacy, policy, or research for organizations such as the American Cancer Society, the Red Cross, or a local non-profit that focuses on specific health issues.
Still other public health professionals will find work in the private sector - working in randomized control trials for pharmaceutical companies or for health insurance companies.
Do I need an advanced degree to work in the field of public health?
While it is possible to gain experience in the field without an advanced degree, most public health professionals need at least a Masters degree for career advancement. For more information on this topics, see the Frequently Asked Question: How can a graduate degree in public health enhance my career opportunities?
What kind of job title can I expect after graduating with a degree in public health?
Job titles, position descriptions, and salary ranges of recent public health graduates will vary greatly based on their course of study and interests. Some sample career titles taken from www.publichealthjobs.net in September 2005 are listed below:
Public Health Management Analyst
Director of Programs and Services
Health Communications Specialist
Research Scientist
Environmental Health Intelligence Analyst
Manager, Breastfeeding Initiatives
source : http://www.whatispublichealth.org/faqs/index.html
Those interested in working for a non-profit organization can find jobs in health advocacy, policy, or research for organizations such as the American Cancer Society, the Red Cross, or a local non-profit that focuses on specific health issues.
Still other public health professionals will find work in the private sector - working in randomized control trials for pharmaceutical companies or for health insurance companies.
Do I need an advanced degree to work in the field of public health?
While it is possible to gain experience in the field without an advanced degree, most public health professionals need at least a Masters degree for career advancement. For more information on this topics, see the Frequently Asked Question: How can a graduate degree in public health enhance my career opportunities?
What kind of job title can I expect after graduating with a degree in public health?
Job titles, position descriptions, and salary ranges of recent public health graduates will vary greatly based on their course of study and interests. Some sample career titles taken from www.publichealthjobs.net in September 2005 are listed below:
Public Health Management Analyst
Director of Programs and Services
Health Communications Specialist
Research Scientist
Environmental Health Intelligence Analyst
Manager, Breastfeeding Initiatives
source : http://www.whatispublichealth.org/faqs/index.html
Careers in Public Health
Public health careers offer something for everyone. Epidemiology and biostatistics involve mathematics and modeling. Environmental health includes a wide range of science skills. Health administration incorporates business and management skills. Health education involves skills required to develop community-wide prevention programs. Health policy includes an understanding of law-making processes.
Perhaps never has there been a more exciting time to pursue a career in public health. Why? Because....
Most experts agree that major advances in improvement of health over the next decades will not come from new medical findings or cures, but rather the broader development and application of population-based prevention programs.
Health services delivery systems are undergoing rapid change. Greater emphasis is being placed on health promotion and disease prevention as a means to reduce the costs of care by improving the health of our populations. These changes have created a broad array of new opportunities for professionals with advanced training in public health.
As the public has become better informed about the effects of toxic wastes and pollutants on their health, greater emphasis is being placed on assuring the safety of our communities as well as worker health and safety. As a result, there is growing demand for experts in environmental health and industrial hygiene.
Public health research is focusing more on women's health, and child and substance abuse, and an increased emphasis is being placed on behavioral change to prevent the risk of STDs, HIV/AIDS, tuberculosis, and unplanned pregnancies. Greater emphasis is also being placed on school health and the health of minority and disadvantaged populations.
source :http://www.whatispublichealth.org/careers/index.html
Perhaps never has there been a more exciting time to pursue a career in public health. Why? Because....
Most experts agree that major advances in improvement of health over the next decades will not come from new medical findings or cures, but rather the broader development and application of population-based prevention programs.
Health services delivery systems are undergoing rapid change. Greater emphasis is being placed on health promotion and disease prevention as a means to reduce the costs of care by improving the health of our populations. These changes have created a broad array of new opportunities for professionals with advanced training in public health.
As the public has become better informed about the effects of toxic wastes and pollutants on their health, greater emphasis is being placed on assuring the safety of our communities as well as worker health and safety. As a result, there is growing demand for experts in environmental health and industrial hygiene.
Public health research is focusing more on women's health, and child and substance abuse, and an increased emphasis is being placed on behavioral change to prevent the risk of STDs, HIV/AIDS, tuberculosis, and unplanned pregnancies. Greater emphasis is also being placed on school health and the health of minority and disadvantaged populations.
source :http://www.whatispublichealth.org/careers/index.html
3 Fungsi Utama Pusat Kesehatan Masyarakat (PusKesMas)
Oleh : Putu Sudayasa
Salah satu tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut diselenggarakan program pembangunan nasional secara berkelanjutan, berencana, terarah dan terpadu. Pusat Kesehatan Masyarakat (PusKesMas) adalah sarana unit fungsional kesehatan terdepan yang memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Puskesmas mempunyai fungsi utama menjalankan upaya pelayanan kesehatan untuk menanggulangi masalah kesehatan masyarakat, terutama menggerakkan pogram promosi kesehatan, penanggulangan dan pencegahan penyakit menular (P2M).
Menurut rangkuman dari berbagai sumber informasi, ada 3 (tiga) fungsi utama yang diemban puskesmas dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dasar (PKD) kepada seluruh target sasaran masyarakat di wilayah kerjanya, yakni sebagai berikut :
1) Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan
Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan,
Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya
2) Pusat Pemberdayaan Masyarakat:
Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat :
Memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat
Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan
Ikut Menetapkan menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan
Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat
Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri.
Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien.
3) Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer) secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (kontinyu) mencakup :
Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan masyarakat.
Melihat fungsi puskesmas yang sangat strategis sebagai penggerak pembangunan kesehatan terdepan di tengah masyarakat, maka diperlukan kebijakan umum seperti dukungan dana, anggaran, sarana dan tenaga yang berkompeten, dari para penentu kebijakan berwenang yang dapat memberdayakan pelayanan puskesmas secara maksimal.
Salah satu tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk mencapai tujuan tersebut diselenggarakan program pembangunan nasional secara berkelanjutan, berencana, terarah dan terpadu. Pusat Kesehatan Masyarakat (PusKesMas) adalah sarana unit fungsional kesehatan terdepan yang memberikan pelayanan kesehatan dasar kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Puskesmas mempunyai fungsi utama menjalankan upaya pelayanan kesehatan untuk menanggulangi masalah kesehatan masyarakat, terutama menggerakkan pogram promosi kesehatan, penanggulangan dan pencegahan penyakit menular (P2M).
Menurut rangkuman dari berbagai sumber informasi, ada 3 (tiga) fungsi utama yang diemban puskesmas dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dasar (PKD) kepada seluruh target sasaran masyarakat di wilayah kerjanya, yakni sebagai berikut :
1) Pusat Penggerak Pembangunan Berwawasan Kesehatan
Berupaya menggerakkan lintas sektor dan dunia usaha di wilayah kerjanya agar menyelenggarakan pembangunan yang berwawasan kesehatan,
Aktif memantau dan melaporkan dampak kesehatan dari penyelenggaraan setiap program pembangunan di wilayah kerjanya
2) Pusat Pemberdayaan Masyarakat:
Berupaya agar perorangan terutama pemuka masyarakat, keluarga dan masyarakat :
Memiliki kesadaran, kemauan dan kemampuan melayani diri sendiri dan masyarakat untuk hidup sehat
Berperan aktif dalam memperjuangkan kepentingan kesehatan termasuk pembiayaan
Ikut Menetapkan menyelenggarakan dan memantau pelaksanaan program kesehatan
Membina peran serta masyarakat di wilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan kemampuan untuk hidup sehat
Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam rangka menolong dirinya sendiri.
Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan menggunakan sumberdaya yang ada secara efektif dan efisien.
3) Pusat Pelayanan Kesehatan Strata Pertama
Menyelenggarakan pelayanan kesehatan tingkat pertama (primer) secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan (kontinyu) mencakup :
Pelayanan kesehatan perorangan
Pelayanan kesehatan masyarakat.
Melihat fungsi puskesmas yang sangat strategis sebagai penggerak pembangunan kesehatan terdepan di tengah masyarakat, maka diperlukan kebijakan umum seperti dukungan dana, anggaran, sarana dan tenaga yang berkompeten, dari para penentu kebijakan berwenang yang dapat memberdayakan pelayanan puskesmas secara maksimal.
Selasa, 19 Juli 2011
LOWONGAN DECENTRALISATION POLICY COORDINATOR
AIPD Staff Vacancy
DECENTRALISATION POLICY COORDINATOR
The Australia Indonesia Partnership for Decentralisation (AIPD) is a five-year program providing technical assistance and capacity building support to local governments and civil society to better manage public resources, leading to improved service delivery and reduced poverty. The program is seeking qualified person to fill vacant position.
Purpose:
To provide AIPD with a dedicated resource based in Jakarta to link AIPD work at the sub-national level with efforts by the Government of Indonesia to improve and refine decentralisation policy.
Qualifications/Criteria:
Deep understanding of GOI’s decentralisation policies, public financial system and current issues
Post Graduate degree in public finance management, social science or relevant study fields with a minimum of five years experience in program implementation.
Excellent communication skills (both English and Bahasa Indonesia) and well-developed interpersonal skills.
Self-motivated and able to work with minimum supervision.
Demonstrated ability to provide high quality reports and other outputs
Good team player
Location:
The Decentralisation Policy Coordinator will be located in Jakarta and based in a relevant directorate of MOHA.
Terms of Reference is available on request. Closing date is Friday, 12 August 2011. Applications addressing the above criteria with a recent CV to be addressed to recruitment@aipd.or.id
Only short listed candidates will be contacted for interview.
____________________
Dede Indra Kurniawan
Communications & Knowledge Management Officer
Australia Indonesia Partnership for Decentralisation (AIPD)
An Australian Government, Aid Program
Telp: +62 380 833 099 ext. 106
Fax: +62 380 833 199
Mob: +62 821 44 976 176
Email: dede.kurniawan@aipd.or.id
DECENTRALISATION POLICY COORDINATOR
The Australia Indonesia Partnership for Decentralisation (AIPD) is a five-year program providing technical assistance and capacity building support to local governments and civil society to better manage public resources, leading to improved service delivery and reduced poverty. The program is seeking qualified person to fill vacant position.
Purpose:
To provide AIPD with a dedicated resource based in Jakarta to link AIPD work at the sub-national level with efforts by the Government of Indonesia to improve and refine decentralisation policy.
Qualifications/Criteria:
Deep understanding of GOI’s decentralisation policies, public financial system and current issues
Post Graduate degree in public finance management, social science or relevant study fields with a minimum of five years experience in program implementation.
Excellent communication skills (both English and Bahasa Indonesia) and well-developed interpersonal skills.
Self-motivated and able to work with minimum supervision.
Demonstrated ability to provide high quality reports and other outputs
Good team player
Location:
The Decentralisation Policy Coordinator will be located in Jakarta and based in a relevant directorate of MOHA.
Terms of Reference is available on request. Closing date is Friday, 12 August 2011. Applications addressing the above criteria with a recent CV to be addressed to recruitment@aipd.or.id
Only short listed candidates will be contacted for interview.
____________________
Dede Indra Kurniawan
Communications & Knowledge Management Officer
Australia Indonesia Partnership for Decentralisation (AIPD)
An Australian Government, Aid Program
Telp: +62 380 833 099 ext. 106
Fax: +62 380 833 199
Mob: +62 821 44 976 176
Email: dede.kurniawan@aipd.or.id
Langganan:
Postingan (Atom)




